BISNISQUICK.COM – Surabaya — Upaya modernisasi parkir di gerai-gerai Mie Gacoan sejak Agustus 2025 berubah menjadi drama besar yang mengguncang Surabaya. Bukan makin tertib, kebijakan parkir digital itu justru memicu kemarahan PJS dan Ormas Madura Asli (MADAS) yang merasa dilewati tanpa diajak bicara.
Keduanya geram karena sistem baru diterapkan saat kontrak parkir lama masih berjalan. Akibatnya? Ledakan protes pecah di depan DPRD Surabaya, 26 Agustus 2025, membuat situasi langsung memanas.
Tak berhenti di sana, dua kali mediasi dengan Komisi B DPRD — 2 dan 16 September — gagal total. Perwakilan manajemen yang hadir dinilai tak punya kewenangan apa pun. Bukannya reda, tensi justru makin naik.
Puncaknya terjadi saat pertemuan lanjutan di Hotel Majapahit, yang menurut PJS dan MADAS justru membuat mereka semakin kecewa dan merasa ditinggalkan.
“Kami bukan anti teknologi, tapi jangan ada pemutusan kerja diam-diam!” ujar salah satu perwakilan dengan nada tinggi.
Sementara itu, manajemen Mie Gacoan bergeming. Mereka bersikeras parkir digital harus diterapkan karena lebih profesional dan memberi ruang pemberdayaan SDM lokal.
Kini, polemik ini berubah menjadi pertarungan kepentingan: modernisasi vs keberlangsungan komunitas lokal. Dan sampai hari ini, tak ada tanda-tanda damai.
Warga pun bertanya-tanya:
Siapa yang akhirnya akan menang? Dan apakah drama ini akan berdampak pada operasional Gacoan di seluruh Surabaya? (POD)



