BISNISQUICK.COM – Peristiwa banjir dan longsor yang menimpa Sibolga tahun ini kembali menegaskan kerentanan kota pesisir yang dikelilingi perbukitan curam terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Selain masalah drainase dan tata ruang, peningkatan intensitas hujan dalam beberapa tahun terakhir menjadi faktor pemicu yang tak bisa diabaikan. Warga berharap pemerintah tidak hanya melakukan penanganan darurat, tetapi juga membangun sistem mitigasi jangka panjang agar peristiwa ini tidak terus berulang dari tahun ke tahun.
Meski berbagai upaya pemulihan telah dimulai, perjalanan menuju normalisasi masih panjang. Pembersihan material longsor, perbaikan fasilitas umum, serta pendataan kerusakan rumah warga diperkirakan memakan waktu. Pemerintah pusat diminta mempercepat bantuan, sementara warga setempat berharap agar hujan segera mereda agar mereka dapat kembali membenahi kehidupan yang seketika berubah akibat bencana ini.
Di lokasi pengungsian, suasana haru mewarnai malam pertama setelah bencana. Sejumlah warga tampak masih syok, kehilangan anggota keluarga, dan tidak dapat kembali ke rumah mereka yang rusak parah. Relawan bekerja keras mendistribusikan makanan, selimut, dan kebutuhan dasar lainnya. Tenaga kesehatan juga melakukan pemeriksaan untuk mengantisipasi penyakit seperti diare, infeksi saluran napas, dan kulit, yang biasanya muncul dalam situasi banjir berkepanjangan.
Pemerintah Kota Sibolga telah menetapkan status tanggap darurat dan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi serta BNPB untuk mempercepat pengerahan alat berat, pembukaan akses jalan, serta distribusi bantuan logistik. Walaupun begitu, kondisi cuaca menjadi tantangan terbesar. BMKG memperingatkan bahwa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih dapat terjadi dalam dua hingga tiga hari mendatang. Hal ini menyebabkan kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya longsor susulan, terutama di area yang struktur tanahnya sudah melemah.
Sementara itu, sejumlah akses strategis di Sibolga dan wilayah sekitarnya dilaporkan terputus. Dua jembatan di Sumatera Utara yang berada di jalur distribusi logistik utama mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang yang menghantam fondasinya. Kondisi ini membuat pengiriman bantuan menjadi lebih lambat, terutama untuk warga di daerah yang berada lebih jauh dari pusat kota.
Sejak Selasa malam, tim gabungan dari Basarnas Sibolga, BPBD, TNI, dan Polri bergerak menuju titik-titik terisolasi. Mereka mengevakuasi warga lanjut usia, anak-anak, dan perempuan ke lokasi pengungsian, termasuk balai pertemuan, sekolah, dan rumah ibadah yang tidak terdampak. Dalam beberapa kasus, warga harus melewati rintangan seperti kabel listrik yang menjuntai, pohon tumbang, serta aliran air deras yang mengarah ke badan jalan.
Di kawasan dataran rendah seperti Pasar Belakang, Pasar Baru, Aek Muara Pinang, dan Aek Habil, warga menghadapi tingginya genangan air yang menghalangi aktivitas harian. Banyak rumah warga terendam hingga setengah badan, sementara toko, kios, dan lapak pedagang basah dan rusak. Sebagian warga memilih bertahan di lantai dua rumah mereka, sementara lainnya memindahkan barang-barang ke tempat pengungsian darurat yang didirikan BPBD dan relawan.
Data terbaru menyebutkan bahwa lima warga Sibolga meninggal dunia akibat kombinasi banjir dan longsor tersebut. Sejumlah korban ditemukan setelah tim SAR melakukan penyisiran di area longsor yang sulit dijangkau. Dengan medan yang licin, curam, dan rentan terjadi longsor susulan, upaya pencarian dilakukan secara perlahan dan penuh kehati-hatian. Peristiwa ini menambah daftar korban di Sumatera Utara yang totalnya mencapai sepuluh orang dalam dua hari terakhir akibat rangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda beberapa kabupaten dan kota sekaligus.
Kondisi tersebut membuat sejumlah kelurahan, seperti Angin Nauli, Simare-mare, Huta Tonga, Hutabarangan, hingga Pancuran Bambu dan Pancuran Dewa, berada dalam situasi darurat. Material tanah yang longsor menutup akses jalan, menimpa rumah, dan memutus arus listrik di beberapa blok pemukiman. Warga sempat terjebak di rumah mereka hingga tim penyelamat tiba membawa perahu karet untuk mengevakuasi mereka melewati genangan air yang semakin meninggi.
SIBOLGA — Derasnya hujan yang mengguyur wilayah Kota Sibolga sejak awal pekan mengubah suasana pesisir barat Sumatera itu menjadi area bencana yang porak-poranda. Dalam waktu singkat, debit air yang turun dari kawasan perbukitan di belakang kota melampaui kapasitas saluran drainase dan sungai kecil, menyebabkan banjir meluas hingga ke pemukiman padat penduduk. Di saat bersamaan, tanah yang jenuh air di lereng-lereng curam mengalami pelonggaran struktur hingga akhirnya menimbulkan rangkaian longsor di berbagai titik.
Hujan deras yang mengguyur wilayah bagian barat Sumatera Utara sejak 24 November memicu bencana besar di Sibolga serta beberapa kabupaten/kota lain di provinsi tersebut. Di Sibolga, banjir dan tanah longsor melanda banyak kelurahan — mulai dari Kelurahan Angin Nauli, Aek Muara Pinang, Aek Habil, Pasar Belakang, Pasar Baru, hingga Pancuran Gerobak, Pasar Sambas, dan beberapa kelurahan lain. Material lumpur, puing, kayu, dan sampah dibawa arus deras, merendam rumah dan menyeret kendaraan serta merusak infrastruktur lokal.
Bencana yang terjadi dalam dua hari tersebut telah menelan korban jiwa. Menurut data resmi dari pihak berwenang, total korban tewas akibat banjir dan longsor di seluruh Sumatera Utara mencapai 10 orang: di antaranya lima dari Sibolga. Selain itu tercatat tiga korban luka-luka, dan enam orang masih dinyatakan hilang.
Tak hanya korban jiwa — sejumlah rumah rusak dan ratusan warga harus bergeser ke tempat pengungsian. Banyak jalur transportasi dan akses utama terputus akibat longsor dan banjir, sehingga distribusi bantuan dan proses evakuasi sempat terhambat.
Pihak berwenang — termasuk tim gabungan dari aparat polisi, unit SAR, dan instansi terkait — telah dikerahkan secara intens. Mereka bekerja untuk membuka akses jalan tertutup, mengevakuasi warga terdampak, serta mendirikan pos-pos darurat bagi para pengungsi. Di saat yang sama, risiko hujan lebat dan longsor susulan tetap tinggi, sehingga warga di kawasan rawan diimbau tetap waspada. OI
+2
Situasi di Sibolga dan sekitarnya tetap genting. Evakuasi dan pencarian korban masih berlangsung, sementara warga yang kehilangan rumah atau terpaksa mengungsi menyebut kondisi di lokasi sangat memprihatinkan — lumpur dan material longsor menyisakan reruntuhan, dan banyak warga masih berjuang mempertahankan keselamatan serta memikirkan bantuan dan pemulihan. (LZY)



