Ekonomi

IHSG Dibayangi Tekanan, Saham Perbankan dan Tambang Terkoreksi

222
×

IHSG Dibayangi Tekanan, Saham Perbankan dan Tambang Terkoreksi

Share this article

BISNISQUICK.COM – JAKARTA, 17 Maret 2026 – Pergerakan pasar saham Indonesia menunjukkan tekanan pada sejumlah saham unggulan (blue chip) dalam perdagangan terbaru. Beberapa emiten besar seperti perbankan, telekomunikasi hingga sektor tambang tercatat mengalami koreksi harga saham, mencerminkan sentimen hati-hati investor di tengah dinamika ekonomi global.

Berdasarkan data perdagangan yang ditampilkan pada platform pasar saham, saham DCII diperdagangkan di level Rp197.525 per saham atau turun sekitar 1,63 persen. Sementara saham petrokimia TPIA juga mengalami penurunan lebih dalam, yakni 5,50 persen ke level Rp5.150 per saham.

Dari sektor perbankan, saham BMRI yang merupakan salah satu bank terbesar di Indonesia turut terkoreksi sekitar 1,05 persen ke level Rp4.700 per saham. Pelemahan juga terjadi pada saham telekomunikasi milik negara TLKM, yang tercatat turun tipis 0,34 persen menjadi Rp2.960 per saham.

Tekanan lebih besar terlihat pada saham sektor tambang. Saham perusahaan batu bara BYAN melemah 2,51 persen ke level Rp12.625 per saham, sementara saham perusahaan tambang tembaga dan emas AMMN mengalami koreksi paling dalam di daftar tersebut, yakni 8,89 persen menjadi Rp4.510 per saham.

Di sisi lain, tidak semua saham berada di zona merah. Saham perusahaan alat berat dan pertambangan ASII justru mencatat kenaikan sekitar 0,43 persen ke level Rp5.850 per saham. Saham perbankan daerah SRAJ turun tipis 0,33 persen menjadi Rp15.025, sementara saham bank nasional BBNI berhasil menguat sekitar 1,3 persen ke level Rp4.320 per saham.

Analis pasar menilai koreksi pada sejumlah saham unggulan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi harga komoditas, serta tekanan nilai tukar rupiah menjadi beberapa faktor yang membuat investor cenderung bersikap wait and see.

See also  Geopolitik Memanas, Pemerintah Klaim Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Solid

Selain itu, menjelang periode libur panjang dan agenda kebijakan ekonomi global, pelaku pasar juga cenderung melakukan aksi ambil untung (profit taking) pada saham-saham yang sebelumnya telah mengalami kenaikan signifikan.

Meski demikian, sejumlah analis menilai fundamental pasar saham Indonesia masih relatif kuat dalam jangka menengah. Stabilitas sektor perbankan, pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap positif, serta permintaan komoditas global yang masih tinggi dinilai dapat menjadi penopang pasar modal Indonesia ke depan.

Pergerakan saham dalam beberapa waktu ke depan diperkirakan masih akan dipengaruhi perkembangan ekonomi global, kebijakan suku bunga bank sentral, serta dinamika harga energi dan komoditas dunia. (XGZ)