BISNISQUICK.COM – JAKARTA, 17 Maret 2026 – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS, dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data pasar spot yang dihimpun dari Bloomberg, rupiah pada perdagangan Senin (16/3/2026) sempat melemah ke level Rp17.006 per dolar AS, turun sekitar 0,28% dibandingkan posisi sebelumnya.
Meski sempat menembus level tersebut, pada penutupan perdagangan rupiah berada di kisaran Rp16.997 per dolar AS, atau melemah sekitar 0,23% dibanding hari sebelumnya.
Pergerakan ini menempatkan rupiah pada rentang perdagangan sekitar Rp16.990–Rp17.050 per dolar AS, sekaligus mendekati batas psikologis yang selama ini menjadi perhatian pelaku pasar.
Faktor Global Tekan Rupiah
Sejumlah analis menilai pelemahan rupiah terutama dipicu oleh sentimen global. Konflik geopolitik di Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian ekonomi dan mendorong investor global beralih ke aset aman seperti dolar AS.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menyebut tekanan pada rupiah tidak lepas dari eskalasi konflik tersebut yang meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.
Selain faktor geopolitik, kebijakan suku bunga global juga ikut memengaruhi arus modal. Survei ekonom internasional menunjukkan bahwa tekanan pada rupiah juga berkaitan dengan kebijakan suku bunga global yang masih relatif tinggi sehingga memperkuat dolar AS.
Kondisi ini mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Level Rp17.000 Dinilai Batas Psikologis Pasar
Bagi pelaku pasar, angka Rp17.000 per dolar AS bukan sekadar angka teknis, melainkan batas psikologis yang dapat memengaruhi sentimen investor.
Sejumlah ekonom menilai pelemahan rupiah yang mendekati level tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh gejolak eksternal dibandingkan fundamental ekonomi domestik. Fenomena ini bahkan disebut sebagai “overshoot” pasar akibat gejolak global.
Artinya, pelemahan mata uang belum tentu mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan.
Fundamental Ekonomi Dinilai Masih Kuat
Di tengah tekanan nilai tukar, pemerintah dan otoritas ekonomi menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat.
Stabilitas sektor keuangan, cadangan devisa yang memadai, serta pertumbuhan ekonomi yang tetap positif menjadi faktor yang diyakini mampu menjaga stabilitas rupiah dalam jangka menengah.
Namun, para ekonom mengingatkan bahwa pelemahan rupiah tetap perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan inflasi impor, terutama pada barang yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri. (UDM)



