BISNISQUICK.COM – JAKARTA, — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di zona merah dalam beberapa waktu terakhir, mencerminkan tekanan yang masih membayangi pasar saham domestik di tengah ketidakpastian global.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG tercatat sempat turun hingga kisaran level 7.100–7.300 sepanjang Maret 2026. Pada penutupan 13 Maret 2026, misalnya, IHSG melemah 3,05 persen ke level 7.137,21. 
Pelemahan tersebut bukan terjadi secara tunggal. Dalam sepekan sebelumnya, IHSG bahkan tercatat merosot hingga 5,91 persen ke posisi 7.137,21, setelah pada pekan sebelumnya juga turun 7,89 persen ke level 7.585,68. 
Jika dibandingkan dengan posisi awal tahun yang sempat berada di atas level 8.000, koreksi ini menunjukkan tekanan pasar yang cukup dalam dalam waktu relatif singkat.
Secara sektoral, tekanan terjadi hampir merata. Sektor energi, bahan baku, industri, hingga transportasi menjadi yang paling terdampak. Pada perdagangan 9 Maret 2026, sektor energi tercatat turun lebih dari 4 persen, sementara sektor transportasi bahkan melemah hingga lebih dari 5 persen. 
Kondisi ini mencerminkan pelemahan yang tidak hanya bersifat teknikal, tetapi juga dipengaruhi faktor fundamental.
Sejumlah analis menilai tekanan terhadap IHSG tidak terlepas dari sentimen global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi dunia. Selain itu, aksi jual investor asing (net sell) juga turut memperburuk tekanan di pasar saham domestik. 
Faktor eksternal lain yang memengaruhi adalah melemahnya bursa global serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi di sejumlah negara mitra dagang Indonesia. Kondisi ini membuat investor cenderung bersikap hati-hati dan melakukan aksi ambil untung.
Meski demikian, jika dibandingkan dengan periode krisis sebelumnya, posisi IHSG saat ini dinilai masih relatif lebih stabil. Kapitalisasi pasar memang mengalami penurunan, namun aktivitas transaksi tetap berlangsung tinggi, mencerminkan likuiditas pasar yang masih terjaga.
Ke depan, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati sejumlah faktor kunci, mulai dari arah kebijakan suku bunga global, perkembangan geopolitik, hingga data ekonomi domestik seperti inflasi dan neraca perdagangan.
Dengan tekanan yang masih berlangsung, pergerakan IHSG dalam jangka pendek diproyeksikan tetap fluktuatif, dengan kecenderungan bergerak di kisaran support 7.100–7.300 sebelum menemukan momentum penguatan baru. (EFU)



