BisnisEkonomi

Saham Asia Tertekan, Investor Hindari Risiko di Tengah Eskalasi Konflik

250
×

Saham Asia Tertekan, Investor Hindari Risiko di Tengah Eskalasi Konflik

Share this article

BISNISQUICK.COM – JAKARTA,  Pasar saham Asia kembali melemah pada perdagangan Jumat (27/3/2026), mengikuti tekanan global seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak konflik berkepanjangan di Timur Tengah terhadap harga energi, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi dunia.

Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang tercatat turun 1,4 persen dan berada di jalur penurunan mingguan sekitar 3 persen. Di Jepang, indeks Nikkei 225 melemah 1,3 persen, sedangkan indeks KOSPI di Korea Selatan anjlok hingga 3 persen, memperdalam kerugian mingguan menjadi sekitar 8,5 persen.

Tekanan juga terlihat di China dan Hong Kong, dengan saham unggulan China turun sekitar 1 persen dan indeks Hang Seng terkoreksi 0,4 persen. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi global akibat konflik di kawasan Timur Tengah.

Di Amerika Serikat, indeks Nasdaq Composite turun 2,4 persen pada perdagangan sebelumnya, sehingga total penurunan dari posisi tertinggi mencapai hampir 11 persen—menandakan pasar telah memasuki fase koreksi.

Sentimen pasar sempat sedikit mereda setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan menunda ultimatum terhadap Iran selama 10 hari. Namun, laporan rencana penambahan pasukan militer AS justru memicu kekhawatiran eskalasi konflik menjadi lebih luas.

Harga minyak dunia yang sempat melonjak tajam mulai terkoreksi terbatas. Minyak mentah Brent turun sekitar 1 persen ke level 107,07 dollar AS per barel, setelah sebelumnya naik hampir 6 persen. Meski demikian, volatilitas tetap tinggi karena ketidakpastian pembukaan jalur distribusi energi penting seperti Selat Hormuz.

Iran menolak proposal perdamaian dari AS dengan menyebutnya tidak adil dan sepihak, sehingga memperkecil peluang deeskalasi dalam waktu dekat.

Analis menilai pasar masih akan didominasi sentimen “risk-off”. Senior analis ITC Markets, Sean Callow, menyatakan tekanan terhadap aset berisiko masih berlanjut di tengah ketidakpastian geopolitik.

See also  Dipimpin Gubernur Khofifah, Misi Dagang Jatim–Jateng Tembus Rp3,15 Triliun

“Pasar melihat tekanan menuju kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS, serta kenaikan imbal hasil obligasi, sementara saham cenderung melemah,” ujarnya.

Di pasar obligasi global, imbal hasil meningkat tajam seiring ekspektasi inflasi. Imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun naik menjadi 2,31 persen, sementara Australia melonjak ke 5,076 persen.

Di Amerika Serikat, imbal hasil obligasi tenor dua tahun bertahan di kisaran 3,97 persen setelah sebelumnya meningkat, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini.

Bank sentral Norwegia, Norges Bank, juga mengisyaratkan potensi kenaikan suku bunga ke depan akibat tekanan inflasi yang meningkat—berbalik dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan penurunan.

Di pasar valuta asing, dolar AS menguat sebagai aset aman. Dolar Australia melemah ke level terendah dua bulan, sementara yen Jepang mendekati level intervensi di kisaran 160 per dollar AS.

Sementara itu, emas naik 0,6 persen ke level 4.405 dollar AS per ons, setelah sempat mengalami koreksi tajam sehari sebelumnya.

Analis dari Citigroup memperingatkan bahwa jika konflik Timur Tengah semakin memburuk, pertumbuhan ekonomi global dapat turun di bawah 2 persen, inflasi melampaui 4 persen, serta meningkatkan risiko resesi.

Asia dinilai menjadi kawasan paling rentan, terutama negara-negara yang bergantung pada impor energi seperti Korea Selatan, Jepang, dan India.

Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, investor diperkirakan tetap berhati-hati dan cenderung menahan investasi pada aset berisiko. (MDR)