Pemerintahan

TPT Jatim Turun ke 3,55 Persen, Pemprov Raih Penghargaan Penurunan Pengangguran Terbaik

309
×

TPT Jatim Turun ke 3,55 Persen, Pemprov Raih Penghargaan Penurunan Pengangguran Terbaik

Share this article

BISNISQUICK.COM – YOGYAKARTA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Regional Jawa-Bali yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Pemprov Jawa Timur berhasil meraih penghargaan Terbaik I Kategori Penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT).

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Djamari Chaniago kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Yogyakarta Marriott Hotel, Kamis (4/6/2026) malam.

Selain menerima penghargaan, Jawa Timur juga memperoleh insentif fiskal sebesar Rp3 miliar dari pemerintah pusat sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan menjalankan program pembangunan yang berdampak nyata bagi masyarakat, khususnya di bidang ketenagakerjaan.

Gubernur Khofifah mengungkapkan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan Jawa Timur menekan angka pengangguran merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen, mulai pemerintah daerah, dunia usaha, dunia industri, lembaga pendidikan hingga masyarakat.

“Alhamdulillah, untuk penurunan angka pengangguran Jawa Timur mendapatkan apresiasi ini. Ini hasil kerja semua lini dan semua elemen, dunia usaha serta dunia industri,” ujar Khofifah.

Menurut Khofifah, penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa berbagai program pembangunan yang dijalankan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Nawa Bhakti Satya mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Keberhasilan itu tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur yang menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2026 sebesar 3,55 persen. Angka tersebut menurun dibandingkan Februari 2025 yang berada di level 3,61 persen dan jauh lebih baik dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai 4,68 persen.

Tidak hanya itu, tren pengangguran di Jawa Timur juga menunjukkan penurunan yang konsisten dalam lima tahun terakhir. Dari 5,17 persen pada Februari 2021, kini turun menjadi 3,55 persen pada Februari 2026.

See also  Presiden Prabowo Panggil Sejumlah Menteri, Bahas Penertiban Kawasan Hutan dan Pertambangan Ilegal

Khofifah menjelaskan, salah satu faktor utama yang mendorong keberhasilan tersebut adalah semakin kuatnya keterhubungan antara pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia kerja. Penguatan program link and match antara sekolah vokasi dan industri dinilai berhasil meningkatkan daya saing lulusan, khususnya dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

“Penurunan pengangguran lulusan SMK sangat signifikan. Ini menunjukkan bahwa penguatan link and match antara pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri semakin efektif,” katanya.

Data BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka lulusan SMK di Jawa Timur turun menjadi 5,73 persen pada Februari 2026, dibandingkan 5,87 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini sekaligus menandai bahwa lulusan SMK tidak lagi menjadi kelompok penyumbang pengangguran tertinggi di Jawa Timur.

Keberhasilan tersebut didukung berbagai program strategis yang dijalankan Pemprov Jatim, mulai dari pelatihan berbasis kompetensi, program magang industri, hingga perluasan akses penempatan tenaga kerja di dalam dan luar negeri.

Saat ini, Jawa Timur telah menjalin kerja sama penempatan tenaga kerja dengan 13 negara tujuan. Kesempatan tersebut juga terbuka bagi lulusan SMK dan lembaga pelatihan kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pasar global.

Pada tahun 2026, sebanyak 4.920 peserta dari 112 SMK dan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) mengikuti program magang dan peluang kerja luar negeri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.617 peserta telah lolos seleksi dan memperoleh Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT).

Menurut Khofifah, capaian itu menunjukkan bahwa sumber daya manusia Jawa Timur semakin kompetitif dan mampu bersaing di tingkat internasional.

Selain penurunan angka pengangguran, kualitas pasar kerja Jawa Timur juga terus membaik. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) meningkat menjadi 74,78 persen atau naik 0,53 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara jumlah penduduk bekerja mencapai 24,25 juta orang atau bertambah sekitar 388 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

See also  Presiden Prabowo Beri Satyalancana Wira Karya kepada Gubernur Jawa Timur

Khofifah menegaskan bahwa insentif fiskal yang diterima akan dimanfaatkan untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia, memperluas kesempatan kerja, mendorong kewirausahaan, serta meningkatkan investasi yang mampu menyerap tenaga kerja secara luas.

“Insentif fiskal yang diberikan pemerintah pusat akan kami optimalkan untuk memperkuat program-program pembangunan yang berdampak langsung bagi masyarakat, terutama peningkatan kualitas SDM, pengembangan kewirausahaan, perluasan kesempatan kerja, dan penguatan ekosistem investasi yang mampu menyerap tenaga kerja secara luas,” tegasnya.

Ia menambahkan, tantangan ketenagakerjaan ke depan akan semakin kompleks sehingga membutuhkan kolaborasi dan inovasi yang lebih kuat dari seluruh pemangku kepentingan.

“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pembangunan ketenagakerjaan. Kolaborasi dan inovasi harus terus diperkuat agar kesempatan kerja semakin terbuka dan kesejahteraan masyarakat terus meningkat,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Khofifah mempersembahkan penghargaan tersebut kepada seluruh masyarakat Jawa Timur yang telah menjadi bagian dari sinergi besar dalam membangun ekosistem ketenagakerjaan yang produktif dan berdaya saing.

“Penghargaan ini adalah milik seluruh masyarakat Jawa Timur. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari sinergi besar dalam membangun ekosistem ketenagakerjaan yang semakin kuat, produktif, dan berdaya saing,” pungkasnya. (CME)