BISNISQUICK.COM – MOSKOW, 21 April 2026 – Pemerintah Rusia melalui Kremlin menegaskan bahwa minyak Rusia tetap menjadi komoditas yang tidak bisa diabaikan dalam pasar energi global, meskipun berbagai sanksi internasional masih diberlakukan.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa keputusan Amerika Serikat memperpanjang pengecualian (waiver) sanksi terhadap ekspor minyak Rusia justru menunjukkan betapa pentingnya peran Rusia dalam menjaga stabilitas energi dunia.
“Rusia tetap menjadi pemain penting dan bertanggung jawab dalam pasar energi global. Volume minyak Rusia sulit untuk diabaikan,” ujar Peskov.
Pernyataan tersebut merespons kebijakan Departemen Keuangan AS yang memperpanjang izin sementara bagi negara-negara untuk tetap membeli minyak dan produk petroleum Rusia hingga pertengahan Mei 2026. Kebijakan ini diambil sebagai upaya meredam lonjakan harga energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Lonjakan harga energi global terjadi setelah terganggunya pasokan dari kawasan Timur Tengah, termasuk dampak penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz. Dalam situasi tersebut, sejumlah negara—terutama di Asia—mendorong AS untuk tetap membuka akses terhadap minyak Rusia sebagai alternatif pasokan.
Beberapa negara Asia bahkan mulai meningkatkan kerja sama energi dengan Rusia. Indonesia dilaporkan menjajaki kesepakatan impor minyak mentah Rusia, sementara Malaysia melalui perusahaan energinya juga tengah melakukan negosiasi pembelian. Selain itu, ekspor minyak Rusia ke China tercatat meningkat signifikan, sementara negara seperti Korea Selatan dan Filipina juga telah melakukan pembelian dalam skema sebelumnya.
Di tengah kondisi tersebut, harga minyak Rusia yang sebelumnya dijual dengan diskon akibat sanksi kini justru mengalami kenaikan tajam. Jenis minyak Urals, sebagai produk andalan Rusia, dilaporkan telah menembus harga di atas 100 dolar AS per barel sepanjang April 2026, seiring krisis energi global yang disebut sebagai salah satu gangguan terbesar dalam sejarah.
Secara global, Rusia memang masih menjadi salah satu kekuatan utama di sektor energi. Negara ini merupakan produsen energi terbesar dunia dan salah satu eksportir utama minyak mentah, sehingga perannya sangat menentukan dalam keseimbangan pasokan global.
Meski demikian, kebijakan AS tersebut menuai kritik dari sejumlah pihak, termasuk Ukraina, yang menilai langkah tersebut berpotensi melemahkan tekanan terhadap Rusia di tengah konflik yang masih berlangsung.
Situasi ini menunjukkan kompleksitas geopolitik energi global, di mana kepentingan stabilitas harga sering kali berbenturan dengan kebijakan sanksi dan tekanan politik internasional. Di satu sisi, negara-negara Barat berupaya membatasi pendapatan energi Rusia, namun di sisi lain tetap membutuhkan pasokan untuk menjaga stabilitas ekonomi global. (TES)



