PendidikanUmum

Gubernur Khofifah: Reyog Bukan Sekadar Atraksi, Tapi Identitas Bangsa

265
×

Gubernur Khofifah: Reyog Bukan Sekadar Atraksi, Tapi Identitas Bangsa

Share this article
Istimewa

BISNISQUICK.COM SURABAYA, 14 April 2026 – Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya penguatan ekosistem kesenian Reyog sebagai warisan budaya dunia yang berkelanjutan, setelah Reyog Ponorogo resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh UNESCO.

Hal tersebut disampaikan Khofifah saat menerima seniman Tim Reyog Kyai Lodra di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, dalam rangka persiapan mengikuti Festival Reyog Nasional Ponorogo 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Juni mendatang.

Menurut Khofifah, Reyog tidak hanya sekadar seni pertunjukan, tetapi juga mencerminkan nilai filosofis yang kuat, seperti keberanian, kebenaran, serta harmoni dalam keberagaman.

“Reyog bukan sekadar atraksi. Di dalamnya ada filosofi yang sangat kuat, tentang keberanian, kebenaran, dan bagaimana keberagaman suku serta agama dapat dirajut dalam harmoni budaya,” ujarnya.

Ia menambahkan, nilai-nilai yang terkandung dalam Reyog memiliki peran strategis dalam membentuk karakter bangsa sekaligus menjadi pijakan dalam pembangunan peradaban.

Penguatan nilai filosofis tersebut, lanjut Khofifah, semakin relevan pasca penetapan Reyog Ponorogo dalam kategori In Need of Urgent Safeguarding oleh UNESCO pada akhir 2024. Pengakuan ini dinilai harus diikuti dengan langkah konkret dalam memperkuat ekosistem seni, mulai dari pelestarian, regenerasi pelaku, hingga keberlanjutan pertunjukan.

Khofifah juga menyoroti pentingnya aspek animal welfare dalam pertunjukan Reyog. Ia menegaskan bahwa penggunaan material dari satwa dilindungi harus dihindari sebagai bagian dari komitmen pelestarian lingkungan.

“Proses menuju pengakuan UNESCO ini sangat panjang dan tidak sederhana. Salah satu perhatian penting adalah memastikan tidak lagi menggunakan material dari satwa dilindungi,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyebut pengakuan global terhadap Ponorogo sebagai Kota Kreatif Dunia UNESCO menjadi momentum strategis untuk memperkuat eksistensi Reyog di kancah internasional. Namun demikian, keberlanjutan tetap menjadi kunci utama.

See also  OPOP Naik Kelas, Khofifah Gandeng ITS Perkuat Inovasi Produk Pesantren Jawa Timur

“Harus sering ada pentas dan event agar regenerasi berjalan maksimal. Dari insentif bisa tumbuh rasa bangga, lalu muncul dedikasi untuk melestarikan,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Evy Afianasari, menyampaikan bahwa pihaknya terus memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mendukung pengembangan Reyog. Sejumlah institusi pendidikan dan komunitas seni dilibatkan, seperti Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta, SMK Negeri 12 Surabaya, dan Universitas Negeri Surabaya.

Selain itu, kerja sama juga dijalin dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam untuk mendukung pelestarian satwa, khususnya burung merak Jawa, yang selama ini menjadi bagian penting dalam atribut pertunjukan Reyog.

Perwakilan Tim Reyog Kyai Lodra, Joko Winarko, mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap pelestarian seni tradisi tersebut. Ia menyebut keikutsertaan timnya dalam festival bukan sekadar kompetisi, melainkan bentuk komitmen generasi muda dalam menjaga warisan budaya.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Khofifah juga memberikan dukungan dana pembinaan sebesar Rp25 juta untuk membantu persiapan tim menuju Festival Reyog Nasional Ponorogo 2026.

Melalui berbagai langkah tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan komitmennya dalam menjaga Reyog sebagai warisan budaya sekaligus identitas bangsa yang terus hidup, berkembang, dan berdaya saing di tingkat global.